AGRONOMI

Agronomi adalah ilmu bercocok tanam. Cabang penting ilmu-ilmu pertanian ini merupakan salah satu ilmu terapan yang berbasis biologi/botani yang mempelajari pengaruh dan manipulasi berbagai komponen biotik (hidup) dan abiotik (tidak hidup) terhadap suatu individu atau sekumpulan individu tanaman untuk dimanfaatkan bagi kepentingan manusia. Cakupan aspek biotik meliputi individu itu sendiri, individu lain yang sejenis, atau individu lain yang berbeda jenis. Cakupan aspek abiotik meliputi semua komponen tidak hidup yang mempengaruhi kehidupan individu yang dipelajari, seperti tanah, cuaca dan iklim, topografi, dan kebijakan ekonomi-politik.

Orang sering menyamakan agronomi dengan ilmu pertanian (dalam arti sempit: hanya untuk tanaman).

HORTIKULTURA

Hortikultura berasal dari kata “hortus” (= garden atau kebun) dan “colere” (= to cultivate atau budidaya). Secara harfiah istilah Hortikultura diartikan sebagai usaha membudidayakan tanaman buah-buahan, sayuran dan tanaman hias (Janick, 1972 ; Edmond et al., 1975). Sehingga Hortikultura merupakan suatu cabang dari ilmu pertanian yang mempelajari budidaya buah-buahan, sayuran dan tanaman hias. Sedangkan dalam GBHN 1993-1998 selain buah-buahan, sayuran dan tanaman hias, yang termasuk dalam kelompok hortikultura adalah tanaman obat-obatan.

Ditinjau dari fungsinya tanaman hortikultura dapat memenuhi kebutuhan jasmani sebagai sumber vitamin, mineral dan protein (dari buah dan sayur), serta memenuhi kebutuhan rohani karena dapat memberikan rasa tenteram, ketenangan hidup dan estetika (dari tanaman hias/bunga).

Peranan hortikultura adalah : a). Memperbaiki gizi masyarakat, b) memperbesar devisa negara, c) memperluas kesempatan kerja, d) meningkatkan pendapatan petani, dan e)pemenuhan kebutuhan keindahan dan kelestarian lingkungan. Namun dalam kita membahas masalah hortikultura perlu diperhatikan pula mengenai sifat khas dari hasil hortikultura, yaitu : a). Tidak dpat disimpan lama, b) perlu tempat lapang (voluminous), c) mudah rusak (perishable) dalam pengangkutan, d) melimpah/meruah pada suatu musim dan langka pada musim yang lain, dan e) fluktuasi harganya tajam (Notodimedjo, 1997). Dengan mengetahui manfaat serta sifat-sifatnya yang khas, dalam pengembangan hortikultura agar dapat berhasil dengan baik maka diperlukan pengetahuan yang lebih mendalam terhadap permasalahan hortikultura tersebut.

Hortikultura adalah komoditas yang akan memiliki masa depan sangat cerah menilik dari keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimilikinya dalam pemulihan perekonomian Indonesia waktu mendatang. Oleh karenanya kita harus berani untuk memulai mengembangkannya pada saat ini. Seperti halnya negara-negara lain yang mengandalkan devisanya dari hasil hortikultura, antara lain Thailand dengan berbagai komoditas hortikultura yang serba Bangkok, Belanda dengan bunga tulipnya, Nikaragua dengan pisangnya, bahkan Israel dari gurun pasirnya kini telah mengekspor apel, jeruk, anggur dan sebagainya.

Pengembangan hortikultura di Indonesia pada umumnya masih dalam skala perkebunan rakyat yang tumbuh dan dipelihara secara alami dan tradisional, sedangkan jenis komoditas hortikultura yang diusahakan masih terbatas. Apabila dilihat dari data selama Pelita V pengembangan hortikultura yang lebih ditekankan pada peningkatan keragaman komoditas telah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan, yaitu pada periode 1988 – 1992 telah terjadi peningkatan produktivitas sayuran dari 3,3 ton/ha menjadi 7,7 ton/ha, dan buah-buahan dari 7,5 ton/ha menjadi 9,9 ton/ha (Amrin Kahar, 1994).

Terjadinya peningkatan tersebut dapat dikatakan bahwa petani hortikultura merupakan petani yang responsif terhadap inovasi teknologi berupa : penerapan teknologi budidaya, penggunaan sarana produksi dan pemakaian benih/bibit yang bermutu. Tampak disini bahwa komoditas hortikultura memiliki potensi untuk menjadi salah satu pertumbuhan baru di sektor pertanian. Oleh karena itu dimasa mendatang perlu ditingkatkan lagi penanganannya terutama dalam menyongsong pasar bebas abad 21.

PERTANIAN MODERN
Pertanian modern yang bertumpu pada pasokan eketernal berupa bahan-bahan kimia buatan (pupuk dan pestisida), menimbulkan kekhawatiran berupa pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup, sedangkan pertanian tradisional yang bertumpu pada pasokan internal tanpa pasokan eksternal menimbulkan kekhawatiran berupa rendahnya tingkat produksi pertanian, jauh di bawah kebutuhan manusia. Kedua hal ini yang dilematis dan hal ini telah membawa manusia kepada pemikiran untuk tetap mempertahankan penggunaan masukan dari luar sistem pertanian itu, namun tidak mebahayakan kehidupan manusia dan lingkungannya (Mugnisjah, 2001). Pertanian modern dikhawatirkan memberikan dampak pencemaran sehingga membahayakan kelestarian lingkungan, hal ini dipandang sebagai suatu krisis pertanian modern.

Sebagai alternatif penanggulangan krisis pertanian modern adalah penerapan pertanian organik. Kegunaan budidaya organik menurut Sutanto (2002) adalah meniadakan atau membatasi kemungkinan dampak negatif yang ditimbulkan oleh budidaya kimiawi. Pemanfaatan pupuk organik mempunyai keunggulan nyata dibanding dengan pupuk kimia. Pupuk organik dengan sendirinya merupakan keluaran setiap budidaya pertanian, sehingga merupakan sumber unsur hara makro dan mikro yang dapat dikatakan cuma-cuma. Pupuk organik berdaya amliorasi ganda dengan bermacam-macam proses yang saling mendukung, bekerja menyuburkan tanah dan sekaligus menkonservasikan dan menyehatkan ekosistem tanah serta menghindarkan kemungkinan terjadinya pencemaran lingkungan. Dengan demikian penerapan sistem pertanian organik pada gilirannya akan menciptakan pertanian yang berkelanjutan..

TANTANGAN PERTANIAN
Tantangan Pertanian ke Depan
OPINI
Agus Candra
| 10 July 2009 | 16:40
Total Read
398
Total Comment
3
Belum ada chart.

Belum ada chart.

Nihil.

Hasil-hasil pertanian seperti sayur-mayur dan buah-buahan dari luar negeri dapat masuk dengan mudah ke Indonesia karena semakin berkurangnya hambatan tarif (Tariff Barierr) dan non tarif (non tariff Barierr). Semakin banyaknya buah dan sayuran import yang beredar di pasar, secara potensial dapat mengancam petani lokal yang tidak siap berkompetisi.

Untuk menghadapi tantangan diatas, upaya-upaya perlindungan terhadap varietas tanaman lokal Indonesia mutlak dilakukan. Selain dari itu, perlu pula adanya peningkatan kreativitas para petani Indonesia untuk secara mandiri melakukan kegiatan “perakitan tanaman baru” secara mandiri dan berdaya tentu dengan pendampingan para saintis didalamnya. Kegiatan Perakitan varietas tanaman yang dikenal dengan kegiatan pemuliaan tanaman harus bisa melibatkan para petani lokal yang memiliki pengetahuan kearifan lokal dan tradisional. Sehingga kegiatan pemuliaan tanaman dapat berjalan dengan baik. Pusat Kajian Buah-buah Tropika IPB diantaranya telah melakukan kegiatan pemuliaan tanaman parsipatoris, dimana dalam setiap tahapan kegiatan pemuliaan tanaman selalu melibatkan petani di dalamnya.

Kegiatan Pemuliaan Tanaman merupakan kunci kedaulatan pangan sebuah bangsa. Suatu bangsa akan mandiri dan berdikari di bidang pangan, jika bangsa itu memiliki tingkat intelektualitas dan kreatifitas yang tinggi dalam melahirkan varietas-varietas tanaman baru yang bernilai tinggi dan memberikan banyak manfaat bagi kemanusiaan.

Kenapa pemulia itu memiliki peranan yang sangat vital bagi ketahanan pangan ? Disini penulis akan sedikit bercerita saat terjadi kerawanan pangan di Yahukimo Papua beberapa tahun yang lalu. Sewaktu penelitian saat kuliah, Penulis di bimbing oleh seorang peneliti dan pemulia tanaman yang bernama Dr. M. Jusuf dari Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi) Malang. Sebagai seorang pemulia beliau memberikan peranan yang vital dalam membantu masyarakat Yahukimo dalam menyediakan varietas umbi jalar baru bagi masyarakat Yahukimo. Sehingga dapat membantu mereka dari bencana kelaparan.

Oleh karena itu, untuk menghargai kiprah para pemulia tanaman di Indonesia pemerintah Indonesia telah menerbitkan UU no 29 tahun 2000 berkaitan dengan Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) dimana dalam undang-undang ini Breeder Right (Hak Pemulia) dan Farmer Right (Hak Petani) di lindungi. Semoga saja dengan lahirnya udang-undang PVT ini dapat memacu kreatifitas para pemulia tanaman, indrustri perbenihan, dan para petani untuk menghasilkan varietas-varietas baru. Menurut hemat saya sudah saatnya sekecil apapun hasil invensi kita di bidang pertanian untuk diajukan untuk memperoleh perlindungan varietas tanaman (PVT).

Search
Archives